HAMKA dan Tasawuf Moden

oleh Asri Yussof pada 20 Nov 2018

HAMKA, nama besar yang lahir dari Padang dan berkongsi serta melebar pengaruh sehingga ke Malaya adalah sebuah mutiara kebanggaan seluruh Nusantara dan dunia Islam. Beliau adalah ulamak Melayu pertama yang berjaya mengarang sebuah tafsir Al-Quran sesuai pada zamannya.

buku pts

Klik di sini untuk memiliki buku ini.

Beliau sudah menghasilkan lebih dari 30 buah buku yang sudah diulang cetak berjilid-jilid. Menarik sekali, beliau juga adalah seorang pengarang novel roman. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, walau usia karya itu sudah lanjut tetapi kandungannya begitu dekat dengan bacaan anak-anak muda pada hari ini.

Buku Tasawuf Modern dikarang sekitar tahun 30-an, sebagai karangan bersambung dalam majalah Pedoman Masyarakat yang terbit di Medan dengan Hamka sendiri sebagai salah seorang jabatan editorial. Setelah selesai diterbitkan di dalam majalah, atas permintaan pembaca Tasawuf Modern diterbitkan sebagai sebuah buku untuk pertama kali tahun 1939.

buku pts

Klik di sini untuk memiliki buku ini.

Penerbitan pertama ini ternyata mendapat sambutan dari masyarakat sehingga mengalami cetak ulang beberapa kali dari sebuah penerbit di Medan. Setelah Indonesia mencapai Kemerdekaan, Tasauf Modern kembali diterbitkan di Jakarta sekitar tahun 60-an.

Dalam buku ini Hamka memetik apa yang dimaksudkan dengan Tasawuf dari gurunya Syeikh Junaid, “Tasawuf ialah keluar dari budi perangai yang tercela dan masuk kepada budi perangai yang terpuji.”

Kebahagiaan dan Tasawuf adalah dua hal yang sangat saling berkaitan. Kebahagiaan adalah tujuan setiap orang dan Tasawuf adalah jalan unutuk mendapatkan kebahagiaan sejati.

Saya sangat mencadangkan agar setiap dari kita memiliki buku ini dirumah dan dijadikan bahan untuk berkongsi bersama-sama teman-teman dan ahli keluarga di dalam pertemuan usrah.

 

Orang fakir mengatakan bahagia pada kekayaan

Orang sakit mengatakan bahagia pada kesehatan

Orang yang telah terjerumus dosa mengatakan bahwa terhenti dari dosa adalah kebahagiaan

Soeorang yang rindu mengatakan bahwa pertemuan adalah kebahagiaan

Seorang pengarang syair merasa bahagia jika syairnya jadi hafalan orang.

Seorang jurnalis merasa bahagia jika surat kabarnya dipahami orang.

 

Dimanakah sebenarnya bahagia itu?

-Buya Hamka-